Bangkit dan Bersinar, Setegar Ebony

Apa yang kau rasakan ketika dicerai, padahal sedang hamil muda? Mungkin kau tenggelam dalam kesedihan, mungkin kau berpikir untuk bunuh diri. Tapi Karin mencoba untuk bertahan.

Karin alias Asih Karina adalah penulis buku Setegar Ebony, buku favorit saya tahun ini. Setegar Ebony bukanlah novel, melainkan sebuah autobiografi. Kisah kehancuran rumahtangganya yang berlangsung hanya beberapa bulan. Cuma seumur jagung!


Padahal Karin dan Ardhan (mantan suaminya) telah memadu kasih selama lima tahun, sebelum menikah. Apa yang membuat Ardhan menjadi berpaling? Apakah ia sadar bahwa pernikahan adalah suatu penjara baginya, yang memuja kebebasan? Atau ia menyesal dan berkata "terlanjur", sudah kadung menikah, tapi hati berkata lain?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini yang ada di hati Karin. Hanya lima bulan setelah menikah, Ardhan mengucapkan talak padanya. Padahal mereka pernah bulan madu ke Bali, dan di sana Ardhan menunjukkan cintanya yang sangat besar. 

Karin terus bertanya, "apa salahku?". Apakah Karin bukan istri yang sepadan untuknya? Apakah Ardhan sudah cukup puas mengambil keperawanannya, lalu menghempaskannya begitu saja? 
Sebenarnya gelagat Ardhan sudah tercium beberapa bulan lalu. Hanya 2 minggu setelah mereka menikah, sorot matanya lain. Ia mulai sering pulang malam, bahkan pergi ke Madura bersama teman-temannya tanpa pamit. 

Karin, yang tinggal bersama mertua dan iparnya, selalu gelisah menanti kepulangan sang suami. Tak jarang ia menunda makan malam, karena ingin menemani Ardhan makan. Tapi ternyata ia sudah makan di luar, bersama rekan kerjanya.

Apakah Karin terlalu posesif dan melarang Ardhan untuk bergaul? Ketika Karin menanyakan, apakah ia akan terus aktif dengan kegiatannya di luar rumah, jawab Ardhan,

"Aku nggak akan berhenti, aku bukan tipe orang yang bisa di rumah terus"

(halaman 35)

Hati istri mana yang tidak hancur ketika mendengar kata kata itu, dari suami yang baru saja menikahinya? Sebagai pengantin baru, wajar saja kalau istri menuntut perhatian lebih,  berduaan saja bersama suaminya. Tapi apa yang membuat sang suami menjadi berubah drastis seperti ini?

Akhirnya Karin mengiyakan ajakan sang ibu untuk pergi ke seorang paranormal. Lalu ada seseorang yang merekomendasikan seorang Kyai muda, yang bisa memecahkan masalahnya. Kyai Yassin namanya. Dengan mobil carteran, Karin menemui kyai itu dan menceritakan masalahnya. Sebotol air doa dan wirid yang harus ia doakan setiap malam adalah bekal dari sang Kyai untuk Karin.

Limpahan doa dan harapan yang Karin ucapkan setiap hari akhirnya membuat Ardhan kembali. Karin sangat bersyukur karena sang suami hadir lagi di pelukannya. Namun keromantisan itu hanya datang dalam beberapa hari. Ardhan seolah tak mau kembali, bahkan tak mau menyempatkan waktu sejenak untuk membalas sms.

Dan puncaknya ketika Ardhan mengucapkan talak di depan Karin. Tapi Karin ingin ia dan keluarganya berpamitan dan mengucapkan perpisahan secara resmi, di depan keluarganya. Datang baik-baik, berpisah dengan baik-baik pula. Ayah Karin tak sanggup menghadiri pertemuan itu, karena turut merasakan sakit hati yang dialami oleh anak bungsunya. Sang ayah memang sudah berpisah dengan ibu Karin, dan tinggal di Jakarta.

Di pertemuan itu, tiba-tiba Ardhan bercerita bahwa ia pernah menikah lima tahun lalu di Bali, dan memiliki seorang anak. Rupanya kemalangan Karin berasal dari teluh dari mantan istri Ardhan, yang tak rela melihat mereka bahagia. Lalu Karin mengucapkan lima sumpah pada Ardhan. Ardhan akan menyesal, karena tak ada lagi wanita yang bisa mencintainya dengan sangat tulus, seperti dirinya. Ia juga akan menjalani hidup yang sangat terjal dan tak pernah bahagia, walau dengan materi berlimpah. 

Setelah acara berakhir, Karin menangis di pelukan ibunya. Dua wanita ini bernasib sama, harus menjadi single parent. Bedanya, sang ibu terpaksa menjanda karena tak terima harus dipoligami, dan harus berjuang membesarkan tiga anak, sendirian. Sedangkan Karin, di usianya yang belum genap 27 tahun, sudah menyandang status janda muda, sedang hamil pula!

Status janda tak membuat Karin dijauhi oleh tetangga. Mereka justru menunjukkan perhatian dan cinta padanya. Pada hari hari tertentu, mereka mengadakan jamuan makan pagi khusus untuk Karin. Walau menunya hanya sayur dan urap, namun ia menikmati kebersamaan ini. Karin yang sedang mengidam juga dihujani perhatian oleh teman teman dan saudaranya. Mereka seolah berebut memberikan makanan yang disukainya.

Namun ketenangan ini hanya berlangsung sekejap. Ardhan tiba tiba datang, bersama ayah mertuanya. Ia memberikan separuh uang ganti rugi yang diminta Karin. Karin memang meminta uang 55 juta rupiah sebagai ganti rugi atas sakit hati yang dideritanya. Sakit itu semakin mencekik saat Ardhan memeluknya dan berkata "aku kangen". Terlebih ketika sang ayah mertua seolah tidak membelanya, dan membiarkan anaknya bertindak semaunya.

Setelah pertemuan mengejutkan itu, Karin menyibukkan diri dengan merenung di kamar mandi. Sang ibu bahkan takut jika putrinya bunuh diri. Ia memang sempat menyinggung hal itu, namuninilah jawaban ibunda:

"Nek Adek bunuh diri, ibu melok mati ae"

(halaman 42)

Jika Karin mati bunuh diri, maka sang ibu akan mati juga. Hidup ibunya dihabiskan hanya untuk menjaga Karin, karena dua kakaknya telah menikah dan pindah rumah. 

Kini Karin sadar, ketika manusia sudah berada dalam tingkat pasrah, maka Tuhan akan menolong dan menunjukkan hikmah di balik petaka. 

"Kekuatan dari Tuhan melalui anakku kini menjadi satu-satunya alasan untukku bertahan meski aku harus menyelami nasib seorang diri seperti layang-layang"

(halaman 9)

Setelah USG, Karin melihat binar mata anaknya, detak jantungnya. Ia adalah harapan baru bagi hidupnya. Ia harus tetap bertahan, demi sang putri tercinta. Dan akhirnya, 26 maret 2013, Ebony Agna Sabria lahir di dunia. Ebony adalah jenis kayu yang sangat kuat, dan Karin ingin jadi kuat, setegar ebony.

Saya menangis tiga kali saat membaca novel ini. Betapa tidak! Sang penulis benar-benar ada dan saya mengenalnya secara pribadi, karena ia adalah adik tingkat saya. Pernah sekali ia menulis status di fb, mencari keberadaan Ardhan. Namun saya tak menyangka bahwa ia harus melewati cobaan yang begitu berliku di usianya yang masih sangat muda. 

Namun Karin berhasil mengubah tragedi menjadi sebuah tragicomedy. Ia menumpahkan perasaannya dan menulis buku Setegar Ebony ini. Baginya, menulis adalah sebuah terapi jiwa. Ia mengajarkan saya bahwa setiap emosi negatif tidak harus menjadi status fb, namun disulap menjadi puisi, cerpen, atau novel. Royalti dan honornya akan menebalkan kantong, kan? 

Karin juga membangunkan pembaca dari mimpi pernikahan impian. Tidak ada yang namanya hidup bahagia selamanya, karena pernikahan adalah sebuah permulaan, bukan akhir. Awal dari hidup baru, dan pasangan pengantin harus siap untuk menghadapi setiap masalah dan badai rumah tangga yang mendera. Laut yang tenang tak akan menghasilkan pelaut tangguh.

Cinta saja tak cukup dalam sebuah hubungan pernikahan. Namun diperlukan juga komitmen, kesetiaan, dan kepercayaan. Saat suami sudah jujur,setia, dan penyayang, itu sudah cukup untuk disebut sebagai suami ideal.

Walaupun ia tak setampan Lee Min Ho, helai rambutnya sudah memutih, dan perut six-packnya sudah membuncit, tapi ia setia menggandeng tangan anda ketika sedang menyeberang jalan. Atau ia mau membantu anda mencuci piring dan menyiapkan sarapan, padahal masih kelelahan pasca lembur. Bukankah itu adalah hadiah yang besar, melebihi kebahagiaan ketika ia memberi anda cincin emas bertahtakan berlian? Tak ada sosok suami sempurna, karena hanya Tuhan yang sempurna.

Karin juga pernah merasa hidupnya sempurna, karena mampu membantu suaminya mencari nafkah, dengan bekerja sebagai content writer. Namun pekerjaan penulis yang mengurung diri di kamar, agaknya perlu lebih disosialisasikan kepada keluarga, tetangga, dan orang lain. Mungkin mertua Karin heran, mengapa menantunya asyik sendiri di kamar, padahal ia sedang bekerja. 

Melalui Setegar Ebony, Karin juga selalu mengingatkan saya untuk bersyukur. Alhamdulillah, saya punya anak laki-laki yang sehat. Ketika ayah saya marah, saya bersyukur karena memiliki ayah. Ketika suami cemberut, saya bersyukur karena memiliki keluarga yang utuh. 

Rasa syukur ini yang seharusnya saya nikmati. Percetakan yang saya dirikan bersama suami memang limbung dan terpaksa harus ditutup, karena tertipu rekan bisnis. Tak tanggung tanggung, kerugiannya senilai limabelas juta rupiah. 

Kesehatan finansial keluarga merosot drastis, dan kami memulai hidup dari nol lagi. Setelah membaca buku ini, saya bersyukur karena memang Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya. Alhamdulillah bukan saya yang menipu. Alhamdulillah Allah segera memperingatkan saya tentang dahsyatnya dosa riba, karena uang itu memang hasil pinjaman dari Bank. 

Tak usah menggerutu ketika ada masalah, karena masalah adalah salah satu cara Allah untuk memanggil hamba-Nya. Saat ada masalah, baru saya sadar bahwa selama ini ibadah sunnah saya kurang dijaga, membaca qur'an pun sesempatnya. Kini saya tobat dan berusaha beribadah dengan lebih tekun.

Sesungguhnya manusia harus bersabar, karena di balik kesulitan, ada kemudahan. Seperti tercantum dalam surat Al Insyirah ayat 5 dan 6.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"

Saya harap semoga Karin dan Agna selalu bahagia. Terimakasih telah menulis buku Setegar Ebony, semoga seluruh pembaca bisa mendapatkan hikmah setelah membacanya.














Komentar

  1. Kupasan yang jelas, jadi pengen punya bukunya.. sukses giveawaynya ya, Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dipesan ke penulisnya lho..cek fbnya aja: asih karina
      makasih :)

      Hapus
  2. Wah, saya juga punya satu buku kisah inspiratif single parent,mau tak bikin review juga ah nanti ^_^

    BalasHapus
  3. seru sepertinya kisahnya, hati tersayat-sayat yah klo ikutan baca... hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk baca juga,,harganya 60.000

      Hapus
  4. Biasanya aku sukses nangis kalo baca buku bertema pengkhianatan gini :( tp baca reviewmu jd penasaran juga mbak :) .. kata2 trakhir yg ditulis juga jd reminder bgt utk slalu menjaga ibadah sunnah, baca quran.. akupun masih kurang bgt yg begitu2 mbak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayosemangat ibadahnya :) bentar lagi ramadhan

      Hapus
  5. Rasanya sedih banget baca ulasannya. Pasti bukunya juga bikin hati teriris-iris...Semoga menang ya ikutan GA-nya.

    BalasHapus
  6. betapa aku merenung setelah membaca review ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga.baca..merenung..menangis

      Hapus
  7. wah pelajaran banget nih mba : "Ia mengajarkan saya bahwa setiap emosi negatif tidak harus menjadi status fb, namun disulap menjadi puisi, cerpen, atau novel". Kadang kita nggak bisa menahan emosi sampai - sampai teman di socmed juga jadi sasaran status kita hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang saya juga nyampah di twitter koq hehhee..ada juga yang menyarankan..kalo lagi marah jangan nyetatus dulu

      Hapus
  8. Sedih ya kisahnya, semoga Allah pilihkan pasangan hidup yang lebih baik Mba' Arin,
    Sukses GA nya Mba'..

    BalasHapus
  9. Terharu baca kisah Karin. Banyak pelajaran berharga dlm hidup ini.
    Sukses GA nya!

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. sama..saya menangis tiga kali.dan membacanya semalaman..saking penasaran dengan endingnya

      Hapus
  11. Hmmmm teganya suaminya, gak ngerasain perjuangan wanita. Ulasan yang menarik mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  12. Tulisanya bagus Mbak, menyentuh, sukses GA nya ya ?

    BalasHapus
  13. Ternyata ada unsur magic yang di haramkan agama

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena yang mengirim magic itu mungkin kurang beragama

      Hapus
  14. Reviewnya dalem banget mbak. Ikut geram, sedih, perih. Gimana kalau baca bukunya ya. Makasih udah ikut GAnya ya mbak.

    BalasHapus
  15. Reviewnya dalem banget mbak. Ikut geram, sedih, perih. Gimana kalau baca bukunya ya. Makasih udah ikut GAnya ya mbak.

    BalasHapus
  16. Weihh... Guna guna... Ya karin harus tau juga donk awal nya kalau doi itu duda.. Berarti dia dulu bukan suami yang baik, buktinya istrinya sakit hati. Bisa jadi karin penyebabnya kan.. Ckckckk.. Naudzubillahminzaliik deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya naudzubillah..bohongnya itu udah level parah..keluarganya juga dibohongi

      Hapus
  17. Cakep, Mak!
    Semoga ekonomi keluarga segera membaik ya, Mak.
    Bangkrut 1 kali utk meraih kemenangan berlipat lipat semoga :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Menghadapi Suami Pelit

Pekerja Serabutan Atau Multitalenta?

Lima Kesalahan Seller yang Membuat Buyer Batal Membeli