Tiga Dekade Penuh Rasa


"Tulisanmu tidak logis!" . Ucapan Bu Yayuk bergema di kelas lima, diiringi derai tawa. Oleh teman sekelas, yang menganggap tulisanku konyol. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. Kami disuruh menulis satu paragraf. Seingat saya, tulisannya berisi, "Tino pergi ke rumah Rina. Tino naik sepeda. Sambil bernyanyi dan bersiul-siul". Awalnya, saya kira tulisan ini brilian. Ternyata malah ditertawakan.

Itulah secuil tragedi di masa kecil saya. Perkenalkan, saya Avizena Elfazia Zen, lahir 19 desember 1986. Nama saya agak aneh, karena untuk laki-laki (Ibnu Sina).  Tapi, what is a name? Saya suka karena unik, tidak ada anak gadis di Jepara yang bernama sama.


Ya, saya numpang lahir di Jepara, lalu pindah ke Malang. Karena Mama mengajar di sebuah Universitas Negeri di kota apel ini. Lalu lahirlah tiga adik laki-laki, Oca, dan Foresta, dan Doni.

Masa kecil saya tidak bagus-bagus amat. Saya tumbuh menjadi anak minder. Karena di SD sering diejek dan dibully, hanya gara-gara tidak bisa bahasa jawa. Di rumah bahasa ibu pakai bahasa indonesia. Jadi, ketika ngomong bahasa jawa, terdengar janggal dan ditertawakan. Mereka jauh lebih tua, karena saya masuk SD di usia 5,5 tahun. Badan kurus kecil ini juga jadi bahan guyonan.

Karena tak mau bergaul dengan mereka, akhirnya saya sering mengurung diri, sepulang sekolah. Menulis buku harian. Hitung-hitung latihan menulis, kan calon wartawan. Saat itu saya ingin jadi wartawan seperti Papa. Keren sekali, liputan, menulis, lalu dimuat di koran. Tapi apa ada wartawan yang tidak percaya diri?

Rasa minder ini membuat saya tak punya prestasi apa-apa. Tapi semua berubah saat kelas lima. Seorang kepala sekolah bernama Bu Djum berkenan mengajar bahasa inggris. Wow, ternyata saya berbakat di bidang  bahasa.

Nilai ujian bahasa inggris selalu dapat 9 dong. Saat sekolah di SMPN 5 maupun di SMUN 8 Malang, bahasa inggris dan conversation selalu jadi kesukaan saya.

Namun minder saya hampir kambuh saat SMU. SMUN 8 Malang terkenal sebagai sekolah artis, karena ada banyak alumninya yang menjadi model lokal, maupun artis nasional. Di angkatan saya, yang go national adalah Andika Pratama dan Mey Chan. Murid yang bukan artis pun ikut ikutan bergaya hedonis, pakai sepatu impor, ke sekolah nyetir mobil sendiri, dll.

Sedangkan saya berangkat sekolah naik angkot, dan pakai seragam kedodoran. I was an ugly duckling. Tapi pertemuan dengan Bravo crew mengubah hidup 180 derajat. Saya direkrut di ekstra kulikuler itu, menjadi wartawan sekolah. Saat diklat, kami ditempa agar jadi orang dewasa yang pemberani dan percaya diri.

Gebrakan pertama Bravo adalah menerbitkan majalah sekolah yang vakum selama bertahun-tahun. Setelah mengantongi izin dari kepala sekolah (yang baru), kami beruntung. Karena SMUN 8 Malang dijadikan venue acara konser musik yang disponsori oleh sebuah produk sampo. Jadi kami bisa mewawancarai Jun Fan Gung Foo dan Dewi Sandra.

                                    Geng Bravo saat diwawancara oleh sebuah majalah remaja

Apakah hasil wawancara itu membuat majalah Bravo laku keras? Ternyata..Di luar ekspetasi, tak semua laku terjual. Bahkan kami harus berhutang ke percetakan.

Tapi hal itu tak membuat saya kapok menulis. Semangat literasi saya semakin menggebu saat kuliah di jurusan bahasa inggris di sebuah PTN di Malang. Saat kuliah berasa di "surga", karena bisa belajar writing, poetry, drama, lalu pentas. Asyik kan!

Saat itulah saya pertama kali kerja sambilan, jadi guru privat bahasa inggris. Sesekali menerima job menerjemahkan artikel. Seorang teman juga mengajak saya berjualan kaos secondhand.

 Walau banyak kegiatan di luar,  tapi saya menikmati "me time" dengan  menulis di rumah. Tahun 2008 saya berkenalan dengan blog (multiply), lalu kecanduan menulis di sana. Beberapa kali artikel saya juga dimuat di media massa, walau tak semua memberi honor. Minimal saya menunjukkan bahwa perkataan Bu Yayuk 10 tahun itu salah. Ternyata saya bisa menulis

Pengalaman "memegang uang" justru saya dapatkan setelah menikah. Bukan gaji suami lho, tapi keuntungan bisnis. Ya, sejak akhir 2011 saya dan suami mendirikan sebuah percetakan. Dengan bermodal bismillah dan uang 600.000 rupiah (dari amplop-an para tamu di pesta pernikahan), kami membeli sebuah mesin cetak mini.

Suami menjadi desainer sekaligus kepala bagian produksi. Sedangkan saya menjadi marketing online. Pengalaman memasarkan kaos dan jaket saat kuliah ternyata sangat membantu kelancaran bisnis ini.

Bisnis yang awalnya lancar ternyata harus tersendat di tahun 2014. Seorang partner dengan tega melarikan mesin cetak, padahal kami sudah menyewanya dengan akad 15 juta rupiah. Setelah mencoba bertahan selama hampir dua tahun, percetakan ini harus ditutup, dengan berat hati.

Lembar hitam harus dihapus, berganti dengan awal yang baru. Setelah hampir 40 hari berkabung karena melepaskan bisnis yang dibesarkan dengan keringat, darah, dan air mata, akhirnya saya berdagang lagi. Beruntung seorang tetangga mempercayai saya, beberapa dompet dan tas kulit boleh dibawa dulu, jika laku baru dibayar. Pemasaran via online pun digencarkan, dan saya mendalami copy writing dan covert selling. Hey, ternyata itu menulis juga kan, membuat kalimat iklan yang menarik dan merayu para calon customer.

Blog (yang jarang diisi) ini juga mulai dirapikan dan ditulisi lagi. Anyway, cita cita menjadi wartawan boleh kandas (karena tidak bisa mengendarai sepeda motor).  Namun saya  masih bisa menulis di blog, di iklan, di mana saja.

Kejadian pahit dan manis datang silih berganti, bittersweet. Semua bisa jadi inspirasi tulisan dan sweet memory.

Setelah ngeblog di sini, jadi tahu Mbak Ika melalui seorang teman, salam kenal ya. Banyak sekali komunitas yang diikuti. Walau baru setahun ngeblog, tapi tulisannya udah banyak banget. Happy anniversary! Makasih atas GA-nya, jadi bersyukur atas anugerah selama hampir 30 tahun saya hidup.

Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Menghadapi Suami Pelit

Pekerja Serabutan Atau Multitalenta?

Lima Kesalahan Seller yang Membuat Buyer Batal Membeli