Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Jika Saya Mati, Sebentar Lagi

Gambar
Jodoh yang paling pasti adalah kematian. Semua orang entah esok atau kapan saja akan meninggalkan dunia yang isinya siang dan malam.

(Sinta Ridwan - Berteman Dengan Kematian)

Pelan-pelan saya resapi kalimat yang teruntai di dalam buku. Kematian? Seringkali manusia lupa bahwa kehidupan dan kematian sudah ditakdirkan oleh-Nya, di lauful mahfudz. Tapi, apa yang akan saya lakukan ketika akan meninggal dunia, 8 hari lagi?

Tentu saja saya akan memerah asi. Saladin, anak tunggal saya, masih menyusu. Minimal ia bisa menyesap asi, walau stok yang ada mungkin hanya cukup untuk satu bulan.  Asi perah itu akan menghangatkan lambungnya. Mencurahkan kasih sayang, walau ibunya telah tiada.

Saya tak mau ia sedih walau tak ada yang menemaninya siang dan malam. Jadi akan ada kado-kado khusus untuknya, walau ia belum mengerti. Bulan depan, ia akan mendapat bantal bergambar masha and the bear. Tiga  bulan kemudian, selimut bergambar paw patrol akan menghangatkannya saat malam. Fyi, mereka adalah tokoh kart…

Bertukar Ibu

Gambar
BRAAK! Richa menaruh kotak bekalnya keras-keras. Sinta yang sedang minum teh botol hampir tersedak.

"Lagi sariawan ya? Kok manyun? Kaget aku, sampai hampir tersedak", goda Sinta. Richa malah memajukan bibirnya empat sentimeter. Beberapa orang di kantin sekolah menertawainya.

"Lihat nih! Sandwich lagi, dan lagi!", kata Richa. Ia membuka kotak bekalnya. Ada roti berbentuk segitiga, berisi dadar, tomat, dan mentimun. Sinta menelan ludah.

"Kalau gak mau, buat aku aja! Hari ini ibu lupa tidak membuatkanku bekal. Jadi harus beli di kantin", ujar Sinta.

Lebih baik beli makanan di kantin, daripada makan roti tiap hari. Gumam Richa dalam hati.  Lalu..

"Gimana kalau kita bertukar ibu? Nanti kamu masuk rumahku, aku tinggal di rumahmu". Apa??

Richa berpikir sebentar."Oke, mulai hari ini ya!".

KRIING! Tiba-tiba bel berbunyi. Murid-murid di SD Cempaka Kuning bergegas masuk kelas. Di kelas, Richa tak bisa menyimak ajaran Bu Mamiek. Pikirannya melayan…

Tiga Dekade Penuh Rasa

Gambar
"Tulisanmu tidak logis!" . Ucapan Bu Yayuk bergema di kelas lima, diiringi derai tawa. Oleh teman sekelas, yang menganggap tulisanku konyol. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. Kami disuruh menulis satu paragraf. Seingat saya, tulisannya berisi, "Tino pergi ke rumah Rina. Tino naik sepeda. Sambil bernyanyi dan bersiul-siul". Awalnya, saya kira tulisan ini brilian. Ternyata malah ditertawakan.

Itulah secuil tragedi di masa kecil saya. Perkenalkan, saya Avizena Elfazia Zen, lahir 19 desember 1986. Nama saya agak aneh, karena untuk laki-laki (Ibnu Sina).  Tapi, what is a name? Saya suka karena unik, tidak ada anak gadis di Jepara yang bernama sama.


Ya, saya numpang lahir di Jepara, lalu pindah ke Malang. Karena Mama mengajar di sebuah Universitas Negeri di kota apel ini. Lalu lahirlah tiga adik laki-laki, Oca, dan Foresta, dan Doni.

Masa kecil saya tidak bagus-bagus amat. Saya tumbuh menjadi anak minder. Karena di SD sering diejek dan dibully, hanya gara-gara tidak …

Papa, Teman Ngeblogku yang Istimewa

Gambar
"Itu apa? Kok keren banget ya. Mau bikin juga ah!

Begitulah ucapan saya di tahun 2008, saat pertama kali melihat tampilan blog di layar komputer. Berwarna warni, berbinar, cantik dan rupawan. Sebuah rumah maya bernama Multiply menarik hati. Sehingga diri ini tergerak untuk registrasi. Saat mp meninggal dunia (dengan tragis), saya pindah ke blog ini dan di sono. Lalu siapa yang memperkenalkan dan memotivasi untuk ngeblog?

Ialah Papa. Beliau berprofesi sebagai wartawan televisi. Pekerjaan beliau menuntut untuk selalu update dengan situasi terkini. Jadi Papa hobi browsing di internet, dan lebih dahulu kenal dunia blogging daripada saya. Gaul banget ya!



Papa tidak pernah mengajari menulis di blog secara khusus. Beliau hanya menunjukkan bagaimana cara mendaftar, masuk ke blog, lalu selebihnya saya belajar sendiri.

 Setelah aktif menulis dan bergaul di multiply, saya jadi kenal blogger lainnya.  Ada artisnya juga lho, seperti Panji, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Tulisannya sudah pa…

Resensi Fortunata

Gambar
penulis:  Ria N Badaria
penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008
tebal: 167 halaman
genre: metropop
Rate : 13+

Layla merasa ia adalah gadis paling tidak beruntung sedunia. Kakaknya menghancurkan impiannya untuk kuliah pariwisata. Biaya kuliahnya terpaksa dipakai untuk membiayai pernikahan kakaknya yang telah menghamili pacarnya. Satu-satunya keberuntungannya adalah Irman, pacarnya, tapi mereka  terpaksa berhubungan jarak jauh . Irman berjanji akan datang ke Monas setahun kemudian.


 Di Jakarta, ia bekerja di sebuah restoran ayam goreng, jauh dari keluarganya yang tinggal di Bogor. Suatu hari, ia hampir tertabrak ambulans, ketika ada sosok asing menariknya. Sosok itu adalah roh Arta, cowok yang koma di Rumah Sakit dekat rumah Bibi Layla. Arta adalah  lulusan Fakultas Hukum Universitas di Korea.  Ia menumpang sementara di kamar Layla, karena tubuhnya menolak rohnya masuk. Ia mengalami koma setelah kecelakaan, karena terkejut  setelah tahu bahwa Fara, pacarnya, berselingkuh dengan s…