Plus Minus Full Day School

Menyekolahkan anak di full day school kini telah menjadi trend di masyarakat. Walaupun biayanya sangat mahal, full day school tetap menjadi pilihan daripada sekolah biasa, karena berbagai fasilitas menarik yang ditawarkan. Fasilitas itu antara lain pemberian bahasa ketiga ( bahasa arab atau mandarin) dan  tersedianya dokter spesialis anak dan ahli gizi. Kebanyakan full day school memiliki kolam renang dan perpustakaan audio visual yang lengkap dengan koneksi internet. Full day school juga memiliki ekstra kulikuler yang cukup bervariasi, seperti pramuka, karate, wushu, menggambar, basket, karya ilmiah, jurnalis, sepakbola, dan lain lain.

Full day school juga menjadi pilihan utama sebagai tempat menimba ilmu bagi anak yang ayah dan ibunya sama-sama sibuk bekerja. Orangtua pun tak lagi was-was jika meninggalkan anak di rumah sendirian atau dengan pembantu rumah tangga. Lebih baik anak bersekolah hingga sore, dan mendapatkan pelajaran agama yang lebih banyak.
Kemudian, ada perbedaan mencolok antara SD biasa dan SD full day school. Di SD full day school, satu orang guru mengajar satu mata pelajaran. Kurikulum di SD full day school juga bisa desesuaikan dengan zaman modern, sehingga murid tidak melulu belajar di dalam kelas. Selain itu, prestise orang tua akan 杯erangkat・karena biaya bersekolah di sana bisa mencapai jutaan rupiah.

Namun di balik semua kelebihan yang ditawarkan oleh full day school, tetap saja para orangtua patut menyimpan kekhawatiran. Tujuan full day school adalah membuat anak sibuk belajar di sekolah sehingga mereka tidak bermain dan keluyuran di luar rumah sepulang sekolah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah anak sudah sangat kelelahan saat sampai di rumah.

Sehabis maghrib mereka merasa capai setelah seharian bersekolah, dan seringkali langsung tertidur lelap. Sehingga, waktu bercengkrama dengan orangtua yang sangat terbatas di malam hari tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini bisa mengakibatkan hubungan antara orangtua dan anak  menjadi kurang harmonis, karena kurangnya komunikasi.

Selain itu, ada tipe anak pembosan yang tidak tahan berlama-lama di sekolah. Anak-anak itu sibuk mencari cara agar guru-guru dan teman-teman memperhatikan mereka. Tapi, seringkali penyampaian cara itu negatif sehingga mereka dicap sebagai anak nakal dan biang onar. Orangtua yang salah mengartikan tingkah laku anak ini pun menjadi marah. Mereka telah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk menyekolahkan anak di fullday school, tapi si anak dianggap menyia-nyiakannya. Anak pun menjadi stress, depresi dan akhirnya membenci sekolah.

Menyekolahkan anak di full day school memang masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Jika anda berniat untuk menyekolahkan anak di full day school, pastikan bahwa kondisi mental anak benar-benar siap untuk bersekolah sehari penuh. Jangan paksakan anak bersekolah di full day school hanya karena mengejar gengsi. Cocokkan juga kurikulum di full day school, apakah sesuai dengan visi anda sebagai orangtua atau tidak.

Artikel ini dimuat di harian SURYA, jum誕t 20 februari 2009

Komentar

  1. Anakku kls 2 pulangnya jam setengah 3 mak, lama ya. Iya sih kadang dia jenuh, seringkali karena ga bisa pelajaran atau ada masalah dengan teman. Ya itu PR saya. saya masih menaruh harapan sih sama sekolahnya karena sekolahnya Islam Terpadu :)

    BalasHapus
  2. iya mbak..lihat lihat anaknya..kalo betah sampai sore ya alhamdulillah

    BalasHapus
  3. dulu jamannya aku belum trend tuh fullday school, jadi aku melewatkan masa sekolah di sekolah negeri aja ... nah 4 adikku semuanya di fullday school yang pulangnya setelah ashar ... karena udah seharian di sekolah, enggak ada PR, jadi pulang ke rumah ya buat istirahat dan main ... yg betah sekolah seharian sih adik2ku yang cowok, klo yg cewek kadang tiap pulang mukanya udah capek hehehe

    BalasHapus
  4. anakku pulangnya jam 3.30 mbak ..senin-kamis..tp dia tidak pernah capek mbak, sudah biasa katanya.masih main juga kalau habis pulg sekolah. tp memang full day itu harus banyak dikaji ulang juga sih. siap pa enggak guru dan muridnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya .kasian kalau anaknya gak siap

      Makasih kunjungannya ;)

      Hapus
  5. Sbenernya agak kurang setuju sama full day school, mengingat prinsip aku ama suami rumah adalah madrasah utama anak. kalo anak terlalu lama diluar lalu kapan kita bisa memberikan pendidikan dasar tentang norma2 dasar dikeluarga kita

    selain itu aku dulu sekolah full day school rasanya itu bener2 pegel, beberapa kali sampe ijin pulang karna pusing dan sakit perut. mungkin karna saking capeknya ya

    tapi kalo liat dari sisi lain mungkin memang ada positifnya untuk sebagian orang tua yang sibuk diluar rumah ketimbang anaknya cuma sama pengasuh dirumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Tergantung kebutuhan anaknya..keadaan keluarganya

      Hapus
  6. Kalau yg fulk Fay School ala pak Mentri katanya sorenya g ada muatan pelajaran. Cuma kegiatan exscul atau lainnya yg sifat nya gembira.

    Selain membantu org tua perkotaan, ditujukkan untuk membantu guru meningkatkan poin waktu mengajar.

    Ada pro kontra. Berhubungan anakq blm sekolah. Aq netral Mak
    Klo kudu berpendapat, sy setuju klo fds nya sore kegiatannya suka2 bukan beban

    BalasHapus
  7. Ooo Medin umur brp sekarang?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Menghadapi Suami Pelit

Pekerja Serabutan Atau Multitalenta?

Lima Kesalahan Seller yang Membuat Buyer Batal Membeli